Mencoba Memaknai Hidup Dengan Tekad, Kebersamaan, dan Do'a

Mengapa harus dibedakan : si Kaya dan si Miskin

Mengapa harus dibedakan : si Kaya dan si Miskin



Dunia ini memang penuh panggung sandiwara. Banyak orang melakukan sandiwara tapi bukan untuk sebuah karya film, melainkan untuk kepentingan pribadi. Salah satu contoh yang kali ini CS-Pe bahas adalah perbedaan pelayanan atau penyambutan antara si kaya dan si miskin.

Orang-orang sekarang sudah termakan oleh dunia. Dimana mereka mementingkan urusan dunia dari pada menghargai sesama manusia. Lihat saja setiap ada acara atau hajatan besar, pasti bangku depan adalah tempat yang disediakan untuk para pejabat atau orang yang dipandang memiliki kekuasaan alias kaya. Padahal umumnya mereka selalu datang terlambat. Yang datang tepat waktu bahkan lebih awal, apalagi kalau itu orang biasa pasti diberi tempat yang belakang. Disamping itu, lihatlah orang-orang yang tak punya perasaan, mereka selalu berpenampilan menarik dan rapi ketika yang punya hajat adalah orang besar atau pejabat. Namun ketika yang punya hajat adalah (maaf) 'orang miskin', mereka akan tampil seadanya tanpa memikirkan daya tarik dan kerapian. Mereka kalau ditanya soal itu, pasti jawabannya adalah menyesuaikan tempat.

Haruskah kita sesama manusia dan sama derajatnya di mata Allah, bersikap seperti itu ? Itu bukan ajaran agama. Seharusnya kita tidak boleh membeda-bedakan, yang terpenting adalah kedatangannya bukan karena materi yang dipunyai. Sejalan dengan hal itu, para pejabat seharusnya juga menyadari tidak boleh merasa dirinya yang harus di hormati. Yah, kalau ingin dihormati mudah saja caranya. Setiap kali jalan, bawalah bendera meraj putih, pasti banyak orang yang hormat pada anda.

Kaya atau miskin itu intinya sama. Kalau mati sama-sama dikubur tanpa membawa apapun. Tidak ada perbedaan pelayanan kematian, karena Allah Maha Adil. Jadi, jangan terpengaruh terlalu dalam oleh duniawi. Hal itu tak akan berlangsung lama dan tak akan abadi, yang abadi adalah amal dan perbuatan kita, yang juga akan menjadi bekal kita sewaktu kita mati. Dengan tidak membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin, kita sudah termasuk golongan orang yang tidak duniawi. Itu juga merupakan contoh perbuatan yang amat mulia. Jadi, tidak ada perbedaan derajat manusia berdasarkan hal duniawi, yang membedakan adalah amal dan perbuatannya.



Posted by Agus Tri Atmadi , Published at 17.14 and have