Mencoba Memaknai Hidup Dengan Tekad, Kebersamaan, dan Do'a

Mitos Salah Mengenai Bulan Muharram (Suro)

Mitos Salah Mengenai Bulan Muharram (Suro)



Sebentar lagi, bertepatan tanggal 15 Nopember 2012 umat Islam akan merayakan Tahun Baru Hijriyah yaitu tanggal 1 Muharram 1434 H. Bulan Muharram oleh masyarakat Jawa sering disebut bulan Suro yang sering dikaitkan dengan bulan penuh pamali, poncoboyo, angker dan keramat. Hal ini bertolak belakang dengan pemahaman yang diajarkan dalam agama Islam bahwa Muharram adalah bulan mulia.

Orang jawa kebanyakan menganggap bulan Muharram adalah bulan yang paling dilarang untuk mengadakan acara yang bersifat sakral, seperti pernikahan, sunatan dan lain sebagainya. Mereka menganggap, orang yang melanggar mitos ini akan tertimpa sial. Bahkan ada yang mendefiniskan, orang yang menikah pada bulan Muharram (suro) maka salah satu akan mati (memangnya kematian itu di tangan siapa ? cape' deh). Ini adalah mitos yang bertolak belakang dengan dasar agama Islam yang mereka anut.

Secara islam, bulan ini adalah bulan yang sangat mulia. Ada dua hal mengapa bulan pertama dalam kalender Hijriyah ini dimuliakan. Pertama, karena disandarkannya nama bulan ini kepada Allah (syahrullah). Kedua, karena bulan ini termasuk salah satu dari keempat bulan yang termasuk dalam Asyhurul Hurum (bulan-bulan mulia). Keempat bulan mulia ini ada yang berurutan (sard), yaitu: Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram sedang yang satu sendirian ( fard) yaitu: Rajab.

Keberadaan Muharram hendaknya dimanfaatkan untuk melakukan aktifitas kebaikan, contohnya: Puasa, sedekah dan menyantuni anak yatim. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: “ Jika kamu berpuasa sebulan setelah Ramadhan, maka berpuasalah pada bulan Muharram, karena Muharram adalah Syahrullah. Dan pada bulan ini terdapat sebuah hari dimana Allah telah menerima taubat dari kaum yang lain.”
Maka dari itu sobat CS-Pe yang dimuliakan Allah, janganlah menganggap mitos orang jawa itu benar seutuhnya. Tinjau dahulu landasan-landasan yang menjadi acuan terciptanya mitos tersebut. Pertama tinjau dulu dari segi agama, apakah menurut agama yang kita anut sesuai dengan mitos tersebut. Untuk masalah akibat yang ditimbulkan melanggar mitos tersebut, semuanya mutlak kehendak Sang ILAHI. Orang yang tidak melanggarpun bisa saja tertimpa sial. Jadi serahkan semua kepada Allah Yang Maha Bijaksana.

Wallahu'alam



Posted by Agus Tri Atmadi , Published at 19.34 and have