Mencoba Memaknai Hidup Dengan Tekad, Kebersamaan, dan Do'a

Fenomena Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia

Fenomena Idul Fitri dan Idul Adha di Indonesia



Umat Islam punya dua hari raya yang diperingati setiap tahun. Tentu kita udah banyak yang tau bukan? Yupp bener banget. Hari raya Idul Fitri yang jatuh setiap tanggal 1 Syawwal dan Idul Adha yang dirayakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Dalam bahasa arab, kata ‘ied berarti kembali. Maka Idul Fitri berarti ‘kembali fitrah (suci)’ dan Idul Adha berarti ‘kembali berkurban’. Menariknya, kedua hari raya tersebut punya keunikan masing-masing loh. Mm.. apa aja perbedaan kedua hari raya tersebut. Check this out!
IDUL FITRIIDUL ADHA
-diperingati setiap tanggal 1 Syawwal-diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah
-berarti “kembali fitrah”-berarti “kembali  berkurban”
-disebut juga hari raya ‘kecil’-disebut juga hari raya besar/haji/qurban
-diawali dengan puasa wajib  di bulan Ramadhan selama sebulan-diawali dengan puasa sunnah di hari arafah (9 Dzulhiijah) selama sehari
-ada zakat fitrah untuk orang miskin-ada hewan qurban untuk orang miskin
-disunnahkan makan dulu sebelum shalat-tidak disunnahkan makan sebelum shalat
-shalat ‘id disunnahkan agak siang agar memberi kesempatan untuk membayar zakat fitrah bagi yang belum-shalat ‘id disunnahkan agak pagi agar memberi banyak kesempatan untuk menyembelih hewan qurban
-takbiran hanya semalam suntuk (namanya takbir mursal)-selain takbir mursal, ada juga takbir muqoyyad setiap habis shalat fardlu

Namun ada yang salah kaprah mengenai Kedua Hari Raya ini di masyarakat Indonesia khususnya. Dimana pada setiap menjelang hari raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia berbondong-bondong untuk belanja pakaian, makanan, serba-serbi hiasan rumah, dll. Bahkan sampai habis-habisan demi memeriahkan hari raya Idul Fitri. Padahal, untuk memaknai Idul Fitri tidaklah perlu bermewah-mewahan, cukup dengan mempersiapkan hati yang ikhlas dan bersih dan menjalin tali silaturahmi antar umat muslim. Dengan demikian pada saat Idul Adha, banyak para masyarakat yang kurang memaknainya, karena alasan ekonomilah atau apalah. Sesungguhnya Idul Adha itu juga memiliki barokah yang luar biasa, karena pada hari itu dimana semua orang yang berhaji bermunajat di Padang Arofah saat tanggal 9 Dzulhijah (sehari sebelum Idul Adha). Dan berdasarkan apa yang saya dengar dari pengajian seorang Kyai dari Bojonegoro bernama KH. Anwar Zaid, beliau mengatakan bahwa orang jawa itu kurang mengerti mengenai takdir Allah. Beliau juga berkata kebanyakan orang jawa menggelar pesta pernikahan itu pada bulan Dzulhijah dan menghindari bulan Muharram (Suro). Itu lah yang salah pada adat orang jawa. Bahwa menggelar atau mengadakan acara di bulan Dzulhijah sama saja menyaingi acara (nduwe gawe) nya Allah yakni Idul Adha (Hari Raya Qurban). Jadi hartanya habis duluan buat Pesta tersebut dan bukan untuk amal hari raya Qurban. Muharram (Suro) sesungguhnya merupakan bulan yang  baik untuk menggelar acara pernikahan, karena semua orang yang berhaji sudah pulang dari tanah suci mekkah. Sehingga do'a nya lebih berkhasiat. Mengenai bulan Muharam (Suro) pantang untuk menggelar acara pernikahan pada adat jawa, itu hanyalah mitos belaka. Katanya bisa membuat kedua mempelai ribut terus atau salah satu akan cepat mati. Kalau masalah ribut itu tergantung dari individu masing-masing bukan karena mitos dan masalah kematian itu merupakan Takdir Allah beserta Kuasa-Nya. Kita tidak bisa menerka-nerka kapan kematian akan menjemput kita. Allahu'alam.



Posted by Agus Tri Atmadi , Published at 15.21 and have 0 komentar

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar